Pernah satu ketika Nabi Muhammad ternampak seorang perempuan tua hendak berjalan pulang dari pasar dengan membawa barang-barang yang agak banyak dan berat juga. Lalu Rasulullah menawarkan dirinya untuk membantu perempuan itu membawa barang-barang tersebut pulang ke rumahnya.
Perempuan tua itu rasa sungguh sukacita kerana ada orang yang mahu membantunya dan terus menerima pelawaan Rasulullah itu. Sambil berjalan menuju rumah perempuan tua itu, mereka berbual-bual tentang kisah-kisah yang hangat diperkatakan orang yang berlaku di Mekah ketika itu.
Cerita perempuan tua itu: “Wahai anak muda, di tempat kita sekarang ini ada seorang anak muda yang bernama Muhammad telah membawa ajaran baru. Angkara anak muda ini telah menyebabkan masyarakat kita berpecah belah”.
“Kehadiran anak muda itu dalam masyarakat kita telah banyak membuat kerosakan kepada kehidupan kita bermasyarakat. Gara-gara ajaran beliau, ahli keluarga berselisih faham, bergaduh dan pecah belah,” sambung orang tua itu lagi.
“Muhammad itu memang jahat, oleh itu janganlah sekali-kali kamu dekat dengan dia, nescaya nanti kamu juga akan dirosakkannya nanti,” tegas perempuan tua itu lagi memberi amaran kepada Rasullullah supaya tidak terpengaruh dengan orang yang dianggapnya jahat itu.
Apapun yang dikatakan oleh perempuan tua itu tentang Nabi Muhammad, Rasulullah sedikit pun tidak marah, malah hanya tersenyum saja.
Setelah sampai di rumah perempuan tua itu, perempuan tua itu bertanya kepada Rasulullah berapakah upah yang dia perlu bayar untuk kerja Rasulullah membawa barang-barang yang berat itu dari pasar sampai ke rumahnya tadi. Sebaliknya Rasulullah memberitahu perempuan tua itu, dia tidak mahukan upah dan hanya ingin membantu secara sukarela saja. Perempuan tua itu berasa hairan dengan kebaikan anak muda itu lalu dia bertanya: “Terlalu baik kamu ini wahai anak muda, boleh mak cik tahu siapakah nama kamu?”.
Rasulullah menjawab: “Nama saya Muhammad, sayalah orangnya yang mak cik ceritakan tadi.”
Terduduk perempuan tua tadi bila dia tahu dia sedang berdepan dengan orang yang bernama Muhammad itu, yang mana selama ini dia mendengar Muhammad adalah orang yang sangat jahat.
Moral dari cerita ini: Kalaulah akhlak kita umat Islam hari ini macam akhlak Rasulullah, sudah tentu orang kafir tidak akan tergamak hendak lukiskan karikatur Nabi Muhammad sebagai pengganas.
Petunjuk Rasulullah s.a.w dalam adab ketika berkunjung ziarah.
Saling mengunjungi (berziarah) sesama kaum muslimin memiliki pengaruh yang sangat besar untuk menguatkan hubungan, menambah rasa cinta, serta mempererat persatuan dan keterkaitan di antara mereka. Berziarah juga memiliki keutamaan yang besar apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah Ta’ala atau untuk menyambung tali silaturrahim. Oleh karena itu, sudah seharusnya seorang muslim mengetahui petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam berkunjung agar ia tidak terjatuh dalam kekeliruan dan kesalahan. Adapun di antara petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkunjung tersebut sebagai berikut:
1. Berniat yang Baik
Apabila seseorang hendak mengunjungi saudaranya, maka yang wajib dilakukan pertama kali adalah mengikhlaskan niat semata-mata hanya karena Allah Ta’ala. Jangan sekali-kali ia meniatkan hanya karena ada tendensi duniawi semata, karena temannya tersebut memiliki harta, jabatan, kedudukan di masyarakat misalnya atau hal-hal lain, sehingga tujuan berkunjungnya ke tempat orang tadi untuk mendapatkan sedikit cipratan dari apa yang diinginkan hawa nafsunya. Maka niatkan ikhlas karena Allah Ta’ala, dasarilah kecintaan kita kepadanya karena Allah Ta’ala dan karena ketaatannya kepadaNya, bukan karena harta, jabatan, kedudukan yang dimilikinya. Demikianlah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bahwasanya seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di kampung lain, maka Allah mengutus seorang Malaikat kepadanya dalam perjalanannya. Ketika telah bertemu, Malaikat itu berkata kepadanya “Kemana engkau hendak pergi?” Ia menjawab, “ Aku ingin mengunjungi saudaraku di kampung ini” Malaikat itu berkata lagi, “ Adakah bagimu satu nikmat yang hendak engkau kejar?” Ia menjawab,“ Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah” Malaikat itu pun berkata lagi,“Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.” (HR.Muslim)
2. Tidak Terlalu Sering Berkunjung (ziarah) Hingga Berlebihan
Janganlah terlalu sering berkunjung (berziarah) agar orang yang dikunjungi tidak menjadi bosan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berkunjunglah sesekali atau sekali waktu niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. al-Baihaqi, al-Bazzar, dan ath-Thabrani)
3. Memilih Waktu yang Tepat untuk Berkunjung.
Hendaknya seorang pengunjung memilih waktu yang tepat ketika berkunjung. Tentu tidak layak seseorang mengunjungi orang lain pada pagi buta, tengah hari ataupun larut malam. Karena, waktu-waktu itu adalah waktu untuk tidur dan beristirahat, bukan waktu yang tepat untuk berkunjung. Atau waktu-waktu orang yang akan dikunjungi pada saat itu sedang sibuk atau tidak berkenan untuk diganggu. Terkecuali ada kepentingan yang mendesak atau seseorang telah meminta izin atau mengadakan perjanjian sebelumnya untuk berkunjung pada waktu tersebut.
4. Menjaga Adab-Adab Isti’dzan (Meminta Izin)
Hendaknya orang yang berziarah menjaga adab-adab beristi’dzan (meminta izin). Hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akhlak Islami. Di antara adab-adabnya adalah seperti: Mengetuk pintu tiga kali, jika tidak ada jawaban maka hendaknya ia pergi. Ketukan pun tidak terlalu keras dan memperhatikan jarak ketukan agar tidak mengagetkan, memperkenalkan diri, tidak menghadap ke arah pintu, mengucapkan salam sebelum masuk, menundukkan pandangan, menerima alasan tuan rumah dan tidak berburuk sangka, meminta izin sebelum masuk menemui mahram atau kerabatnya, dan lain sebagainya dari adab-adab meminta izin.
5. Menundukkan Pandangan terhadap Privasi Rumah (Anggota Keluarga).
Apabila seseorang mengunjungi sebuah keluarga di rumah mereka, maka wajib baginya untuk ghadhdhul bashar (menundukkan pandangan) terhadap privasi (hal-hal yang bersifat pribadi) anggota keluarga mereka. Janganlah ia mengumbar pandangannya agar terhindar dari melihat privasi mereka dan janganlah ia mempunyai keinginan untuk melakukan hal tercela tersebut di dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman artinya, “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Mu’min: 19)
Berkaitan dengan tafsir ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Bahwasanya seorang laki-laki masuk kepada ahli bait (tuan rumah), sementara di antara mereka ada seorang wanita yang cantik atau lewat di depannya. Apabila mereka lengah, laki-laki itu pun melihat kepadanya. Jika mereka memperhatikan, maka ia pun menundukkan pandangannya. Jika mereka kembali lengah, laki-laki itu kembali melihatnya dan jika mereka memperhatikan, ia pun kembali menundukkan pandangan. Allah mengetahui isi hatinya bahwa laki-laki tersebut suka seandainya bisa melihat kemaluannya”. (Tafsir Ibnu Katsiir, IV/79-80)
Maka dari itulah, wajib bagi seorang hamba menghiasi dirinya dengan ketakwaan dan muraqabah (merasa diawasi oleh Allah Ta’ala).
6. Hendaknya Seorang Pengunjung Duduk di Tempat yang Telah Diizinkan oleh Tuan Rumah.
Apabila tuan rumah menempatkannya di sebuah kamar atau di tempat duduk tertentu, maka janganlah ia berpindah tempat tanpa seizinnya. Sebab boleh jadi tuan rumah menempatkannya di tempat tertentu tersebut dengan tujuan agar privasi atau aurat mereka tidak tersingkap.
7. Janganlah Mengumbar Pandangan untuk Melihat-lihat Perabot dan Barang-Barang Lain di sekitarnya.
Banyak orang yang merasa risih apabila orang yang mengunjungi melihat-lihat perabot dan barang-barang lain yang ada di sekitarnya. Terlebih lagi jika ditanyakan kepadanya, “Ini berapa harganya?” atau “Dari mana anda mendapatkannya?”, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak layak untuk di pertanyakan.
8. Jangan Mengangkat Suara di dalam Rumah.
Hendaknya seorang pengunjung tidak mengangkat suara karena dapat mengganggu orang-orang yang dikunjungi. Dan janganlah mengangkat suara tinggi-tinggi ketika berbicara, berdebat dan lain sebagainya, sehingga orang lain tidak terganggu olehnya. Allah Ta’ala berfirman: “…Dan lunakkanlah suaramu…”(QS. Luqman: 19)
9. Jangan Mencuri Dengar atau Mengintai Tuan Rumah.
Sebagian orang memasang kedua telinganya untuk mendengarkan pembicaraan tuan rumah di kamar sebelah atau pembicaraan mereka dengan keluarganya atau pembicaraan kaum hawa dari penghuni rumah tersebut, dan hal-hal lain yang bersifat rahasia. Perbuatan-perbuatan seperti ini tidaklah sepantasnya dilakukan seorang muslim yang berakhlak mulia. Lebih-lebih jika ia berniat buruk atas perbuatanya tersebut, maka hal itu diharamkan.
10. Tidak Membiarkan Anak-Anaknya Merosakkan Harta di Rumah Orang.
Hendaknya seorang pengunjung tidak membiarkan anak-anaknya bermain-main, merusak dan memecahkan perabotan, menghancurkan barang-barang, memukul anak tuan rumah, serta teriak-teriak atau menjerit. Karena semua itu dapat mengganggu dan membuat mereka keberatan dikunjungi. Bagaimanapun juga bahwa menggangu seorang muslim adalah perkara yang dilarang dalam agama.
11. Tidak Mengimami Tuan Rumah di Rumah Mereka.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa mengunjungi suatu kaum di rumah mereka, maka janganlah ia mengimami mereka, namun hendaknya salah seorang dari mereka (tuan rumah) bertindak sebagai imam”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi dan beliau menshahihkannya). Akan tetapi, apabila mereka mempersilahkan dan mengizinkannya disebabkan ilmu, keutamaan atau umurnya, maka ia boleh menjadi imam, menurut sebagian ahli ilmu.
12. Tidak Berlama-lama Ketika Berkunjung.
Apabila seseorang terbiasa berlama-lama ketika mengunjungi orang lain, maka akan membuat orang yang dikunjungi menjadi bosan, merasa berat, tidak menyukai kunjungannya atau enggan menerima kedatangannya lagi, bahkan bisa jadi dia akan membicarakan tentang keburukan dirinya.
13. Menyuruh kepada yang Ma’ruf dan Mencegah dari yang Mungkar.
Apabila seseorang berkunjung, kemudian melihat kemungkaran di rumah yang ia kunjungi seperti foto-foto atau gambar yang terpajang, patung, atau melihat mereka meninggalkan shalat, mendengarkan lagu-lagu, tidak menutup aurat, atau melakukan hal-hal yang melanggar aturan agama lainya, maka wajib atasnya menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar sesuai dengan kemampuannya. Janganlah ia merasa malu atau takut untuk melakukannya. Akan tetapi tentunya harus tetap menjaga adab yang baik dengan cara yang penuh hikmah dan mau’izhatil hasanah agar bisa diterima oleh tuan rumah.
14. Tidak Beranjak Pulang kecuali jika telah Diizinkan oleh Tuan Rumah.
Seseorang tidak diperbolehkan beranjak pulang tanpa meminta izin kepada tuan rumah. Atau keluar dari majelis untuk pulang tanpa izin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mengunjungi saudaranya lalu ia duduk bersamanya, maka janganlah ia bangkit hingga saudaranya tersebut mengizinkannya”. (HR. ad-Dailami). Sebab jika ia bangkit dari majelis tanpa izin, bisa jadi akan tersingkap baginya aurat tuan rumah, dan tentunya hal ini tidak diperbolehkan.
15. Mensyukuri (berterima kasih) kepada Tuan Rumah atas Jamuan Mereka.
Hendaknya seseorang bersyukur atau berterima kasih atas jamuan yang disuguhkan Tuan rumah, khususnya apabila mereka telah menerimanya dengan baik. Sebab barangsiapa tidak mensyukuri manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala. Seseorang harus membalas kebaikan orang lain kepada dirinya atau paling tidak ia mendo’akannya dengan berkata, “Jazaakumullahu Khaira…” (semoga Allah Ta’ala membalasmu dengan kebaikan atas penyambutanmu…) dan lain sebagainya dari ucapan-ucapan yang baik. Wallahu A’lam
Rasulullah s.a.w bersabda,maksudnya " Apabila datang bulan Ramadhan maka dibuka segala pintu syurga dan ditutup segala pintu neraka,dirantai segala syaitan,dan menyerulah seorang penyeru hai orang yg ingin membuat kebajikan marilah kamu,hai orang yang ingin berbuat kejahatan berhentilah kamu."
Mari kita rebut TuJuH PeRkaRa SuNat DalaM BerpUasA...
1.Makan Sahur
2.Melewatkan Sahur
3.Segera Berbuka Apabila Masuk Waktunya Dengan Buah Tamar,atau Air dengan membaca doa;
"Ya Allah ,Ya Tuhanku,kepadaMu aku berpuasa,dan dengan rezekiMu aku berbuka ,maka terimalah amalan ini dariku Ya Allah."
4.Meninggalkan Bersugi Selepas Gelincir Matahari.
5.Membanyakkan Sedekah.
6. Membanyakkan Tadarus Al-Quran.
7.Membanyakkan I'tikaf Terutamanya Pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan.
Sabda Rasulullah s.a.w ,maksudnya; "Sesiapa yg mendirikan puasa Ramadhan kerana keimanan dan menuntut pahalanya maka diampuni dosanya yang terdahulu,"
Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian), tatkala mereka bangun (dihadapan pemerintah mereka) lalu berkata: "Tuhan kami ialah Tuhan yang mencipta dan mentadbirkan langit dan bumi; kami tidak sekali-kali akan menyembah Tuhan yang lain dari padanya; jika kami menyembah yang lainnya bermakna kami memperkatakan dan mengakui sesuatu yang jauh dari kebenaran." (Al-Kahfi:14)
Dan di dalam Sahih Muslim diriwayatkan Abdullah bin Mas'ud berkata: (mafhum)
"Barangsiapa yang ingin berjumpa Allah di kemudian hari dalam keadaan Muslim, maka hendaklah ia memelihara solat lima waktu ini dengan melakukannya di mana adanya seruan azan, kerana sesungguhnya Allah telah menetapkan (mensyari'atkan) jalan-jalan menuju hidayah, dan sesungguhnya melakukan solat lima waktu dengan berjemaah adalah termasuk jalan-jalan menuju hidayah. Maka sekiranya kamu solat di rumah-rumah kamu sebagaimana orang yang lalai melakukannya di rumah, maka bererti kamu telah meninggalkan sunnah (ajaran) nabi kamu, dan jika kamu meninggalkan sunnah nabi kalian, nescaya kamu sesat."
Berita yang dilaporkan oleh Utusan Malaysia pada 3 April 2007 yang lalu. Berita bertajuk “Masjid diceroboh, al-Quran dibakar” dilaporkan berlaku di Masjid Jamek Al-Insaniah Simpang Ampat, Pulau Pinang.
Seperti yang dilaporkan, dalam kejadian itu tabung-tabung Masjid didapati bersepah, cermin pintu Masjid pecah dibaling batu, 7 helai ayat surah Al-Baqarah juga telah dibakar dan Masjid ini juga hampir-hampir terbakar kerana didapati beberapa bahagian bidai tingkap, permaidani sertai wayar elektrik didapati musnah kerana perbuatan khianat. Ini adalah satu tindakan yang tidak bertanggungjawab yang dilakukan oleh mereka yang tidak bertamadun.
Tindakan ini adalah satu jenayah yang perlu disiasat oleh pihak Polis bagi mengelakkan salah faham atau tuduh menuduh kerana ianya melibatkan pembakaran al-Quran. Ada yang mengatakan bahawa itu adalah tindakan pencuri yang marah kerana mendapati tabung-tabung Masjid telah dikosongkan lebih awal bagi mengelakkan dicuri sekali lagi.
Ada juga pihak beranggapan bahawa tindakan ini adalah satu provokasi dari pihak-pihak yang bencikan Islam kerana kejadian membakar al-Quran dilihat begitu serius seperti satu amaran kepada umat Islam.
Jawatankuasa Masjid-masjid diseluruh negara mesti mengambil pengajaran di sebalik kejadian ini. Masjid-masjid dan surau-surau perlulah diimarahkan secara lebih aktif lagi. Kita sedia maklum bahawa Masjid adalah “Rumah Allah” dan kita harus menjaganya secara bersama.
Tindakan mengunci pintu Masjid dan Surau selepas Solat Isyak tidak menjamin keselamatan premis ini sepenuhnya. Pihak Jawatankuasa perlu kreatif untuk memastikan Masjid dan Surau mereka ini dapat melakukan program-program lain selain dari bersolat sahaja.
Di zaman Rasulullah, Masjid dijadikan tempat sahabat-sahabat berkumpul, melakukan interaksi, beribadat, menimba ilmu, bermesyuarat dan merancang urusan negara.
Oleh itu, fungsi Masjid pada hari ini telah lari dari amalan kebiasaan Rasulullah. Kita lebih suka menjadikan Masjid sebagai tempat untuk bersolat 5 waktu sahaja dan lebih malang lagi, ada kalangan umat Islam yang tidak bertanggungjawab menjadikan Masjid sebagai tempat singgahan bagi membuang hajat kerana tidak dikenakan sebarang bayaran.
Fungsi Masjid ini perlu diperkemaskan lagi dengan menjadikannya pusat pendidikan masyarakat melalui kuliah dan pengajian al-quran yang boleh dibuat selepas waktu Isyak. Tuisyen-tuisyen juga boleh dibuat di Masjid bagi anak-anak kariah. Selain itu, program Qiamullail boleh dilakukan secara kerap bagi memastikan Masjid dapat dihidupkan pada waktu Malam.
Program-program tradisi seperti bacaan surah Yaasin pada malam Jumaat baik diteruskan dan pada malam-malam lain kariah juga boleh mengadakan kuliah maghrib atau program bacaan surah-surah al-Quran yang lain. Program tadarus dan kelas al-Quran juga wajar diadakan setiap hari bagi menghidupkan Masjid yang ada.
Semoga umat Islam hari sedar betapa besar peranan yang perlu kita main bagi menjaga agama dan amanah yang diberi. Masjid yang besar dan gah tidak akan diberkati oleh Allah kiranya kita tidak menghidupkannya dengan amalan-amalan yang banyak dan bermanfaat. Dan satu pembaziran jika Masjid-masjid yang ada tidak digunakan sepenuhnya.
KEPENTINGAN solat lima waktu sememangnya diketahui umum oleh umat Islam sehingga ia diletakkan pada kedudukan kedua dalam rukun Islam selepas mengucap dua kalimah syahadah. Begitupun, keadaan umat Islam pada zaman ini yang sebahagiannya didapati sengaja mencuaikan perintah Allah ini, apatah lagi untuk menunaikannya secara berjemaah, adalah suatu realiti yang amat menyedihkan hari ini.
Oleh itu, adalah penting untuk masyarakat Islam diberikan dorongan (targhib) dengan menerangkan kelebihan dan keistimewaan solat berjemaah bagi menarik mereka kepada amalan tersebut kerana ia bukan sesuatu yang boleh dipaksa.
Nabi Muhammad telah mendidik para sahabatnya serta umat Islam keseluruhannya sehingga akhir zaman supaya bukan sahaja menjaga solat lima waktu tepat pada waktunya, bahkan supaya bertekun mengambil berat terhadap solat berjemaah. Hatta, Baginda tidak pernah bersolat fardu secara sendirian sepanjang hayatnya.
Alhamdulillah, hari ini masuk hari ke sembilan kita berpuasa. Bagi yang benar-benar merasai kehadiran bulan Ramadhan ini pasti sibuk mempertingkatkan amal ibadah demi merebut ganjaran yang berganda yang dijanjikan oleh Allah s.w.t. Pelbagai amalan dilakukan bagi mendapatkan keredhaan Allah s.w.t dan juga keberkatan Ramadhan ini seperti Solat Tarawih, Tadarus Al-Quran, Bersedekah, Berzikir dan sebagainya.Namun, dalam kita sibuk mengejar bonus berharga daripada Allah s.w.t ini, masih wujud golongan yang kurang menghayati kehadiran bulan yang dikatakan permulaannya sebagai Rahmat, pertengahannya Maghfirah (keampunan), dan penghujungnya Pelepasan daripada Azab Neraka. Golongan ini tidak lain dan tidak bukan orang-orang disekeliling kita dan mungkin juga diri kita sendiri.
Kita sering mengingatkan diri kita supaya tidak menjadikan Puasa di bulan Ramdhan ini sekadar Lapar dan Dahaga semata-mata, biarlah dengan kita berpuasa menjadikan kita menjadi lebih akrab dengan Allah s.w.t, mendapat keberkatan, keampunan dan diterima segala amalan. Tapi, sejauh mana kita beriman dengan peringatan tersebut? kenapa kita masih tegar melakukan apa yang dilarang Allah s.w.t yang menyebabkan cacat atau tempangnya tubuh puasa kita? Percakapan dan perbualan kita, sejauh mana kita meninggalkan yang lagha? mata yang dikurniakan, adakah sentiasa jauh daripada pandangan maksiat? Pakaian yang disarung adakah tertutup sempurna aurat? kaki yang melangkah adakah sekadar penat berpusing-pusing di bazar Ramadhan tanpa tujuan? pergaulan dengan berlainan jantina adakah terpelihara daripada terjerumus ke lembah maksiat?
sama-sama kita muhasabah diri agar kesempatan Ramadhan yang dikurniakan pada kali ini tidak sia-sia tetapi terbukunya manfaat pahala dan nikmat daripada Allah s.w.t....Jadikan Kesempatan Ramdhan Ini Sebagai Madrasah Tarbiyyah Yang Terbaik Bagi Kita Membentuk Jati Diri dan Peribadi Muslim Yang DiRedhai oleh Allah sw.t....wallahu'alam.
Masjid ialah rumah Allah dan juga pusat pembentukan masyarakat, yang dapat memainkan peranan ke arah meningkatkan syiar Islam. Masjid tidak hanya terbatas kepada ibadat khusus sahaja, seperti ibadat solat. Sebaliknya, konsep dan falsafah masjid yang telah ditunjukkan dan dipraktikkan oleh sirah Rasulullah SAW, merangkumi semua aspek termasuk perhubungan di antara manusia dengan Allah dan antara manusia sesama manusia. Sebagai contoh, Masjid Nabawi di Madinah, adalah menjadi nadi kepada keutuhan masyarakat dan negara Islam pertama, pusat perpaduan dan lambang kekuatan Islam.
Nabi Muhammad SAW banyak menerima wahyu di dalam masjid, di samping menjadikan masjid sebagai tempat mengajar para sahabatnya mengenai Islam, iman dan ihsan. Demikian juga mengajar cara-cara pembentukan peribadi, pembersihan hati, peraturan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Firman Allah : (An-Nur:36)
Nur hidayah petunjuk Allah itu bersinar dengan nyatanya terutama sekali) di rumah-rumah ibadat yang diperintahkan oleh Allah supaya dimuliakan keadaannya dan disebut serta diperingat nama Allah padanya; di situ juga di kerjakan ibadat mensuci dan memuji Allah pada waktu pagi dan petang.
Dengan aktiviti masjid yang berkesan, maka cahaya Islam mula tersebar dari Masjid Madinah dan Mekah, menyinari ke semenanjung Tanah Arab dan seluruh dunia. Agama Islam berjaya menukar watak manusia. Kegelapan bertukar kepada cahaya, orang jahil bertukar menjadi alim, orang kafir menjadi mukmin yang bertakwa, orang fasiq menjadi orang soleh dan pejuang kebenaran.
AYUH UMAT ISLAM!!
"Pada akhir zaman, orang-orang yang memegang tali perjuangan itu bagaikan menggenggam bara api, andai terus digengam hancur luluh jiwanya, namun andai dilepaskan hancurlah dunia. Jangan takut untuk berjuang kerana orang-orang yang berjuang ini memang direntangi ujian. "sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang sabar..... "kita hidup untuk perjuangan, mati untuk kehidupan syurga impian...
Di dalam Sahih Muslim dari Abdullah bin Mas'ud RA meriwayatkan: (mafhum) "Sesungguhnya kami telah menyaksikan, bahawa tidak ada yang meninggalkan solat berjemaah (pada zaman kami) kecuali orang munafiq yang telah jelas kemunafikannya, atau orang sakit. Padahal ada di antara yang sakit berjalan dengan diapit oleh dua orang untuk mendatangi solat berjemaah".
Dan Abdullah bin Mas'ud RA juga meriwayatkan: (mafhum) "Sesungguhnya Rasulullah SAW. telah mengajari kami sunnah-sunnah agama, dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah solat di masjid yang dikumandangkan azan di dalamnya".
"Wahai orang-orang yang beriman, telah wajib ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang yang bertakwa." Surah Al Baqarah, ayat 183"
Alhamdulillah... Bulan yang dinanti-nanti kehadirannya tiba jua. bersyukurlah kita ke Hadrat Allah s.w.t kerana telah dipertemukan kita dengan Bulan yang penuh keberkatan ini...
Buat sahabat-sahabiah sekalian, jom kita imbas kembali peristiwa-peristiwa besar yang berlaku di bulan Ramadhan ini untuk dikongsi bersama. jadikan ia sebagai peringatan.
Bulan Ramadhan bukan hanya terkenal sebagai pusat latihan ibadah kepada umat Islam, malah ia juga terkenal dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam
BULAN DITURUNKAN AL KITAB Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan. Bulan yang diturunkan di dalamnya (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk untuk manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pemisah antara yang benar dan salah.
Para pakar tafsir dan hadis merekodkan, Allah juga menurunkan kitab-kitab dan suhuf iaitu kitab-kitab kecil selain Zabur, Taurat, Injil dan Al Quran kepada para rasul terdahulu pada bulan Ramadhan.
Cukup sekadar ini untuk kali ini. Sama-samalah kita fikir sambil berpuasa. Wallah hu 'alam...
Di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim terdapat hadith dari Abu Hurairah RA bahawasanya Rasulullah SAW bersabda (mafhumnya):
"Sungguh, alangkah ingin aku menyuruh (para sahabat) melakukan solat, dan aku suruh seseorang untuk mengimaminya, kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa beberapa ikat kayu bakar menuju (rumah) orang-orang yang tidak ikut solat berjemaah, untuk membakar rumah mereka dengan api."
Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad meriwayatkan bahawasanya Rasulullah SAW bersabda: (mafhumnya)
"Kalau sekiranya tidak kerana isteri-isteri dan anak-anak berada di dalam rumah mereka, nescaya aku bakar rumah mereka."
Berulang kali Allah SWT menyebut Solat di dalam Al-Quran. Allah SWT meninggikan kedudukannya, Allah SWT memerintahkan agar memelihara dan melaksanakannya dengan berjemaah. Dan Allah SWT peringatkan bahawa meremehkan dan bermalas-malasan dalam melakukan solat berjemaah merupakan ciri orang-orang munafiq, sebagaimana firman-Nya: "Peliharalah segala solat(mu) dan peliharalah solat Wustha (yang di tengah-tengah yakni Asar). Berdirilah kerana Allah (dalam solatmu) dengan khusyuk". (Surah Al-Baqarah; Ayat 238) Dan bagaimanakah kita ingin mengetahui sama ada kita memelihara solat ataupun tidak? Padahal kita telah meninggalkan solat berjemaah bersama-sama suadara-saudara lain dan menganggap remeh kedudukannya. Sedangkan Allah SWT telah berfirman:- "Dan dirikanlah solat, tunaikan zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. (Surah Al-Baqarah: Ayat 43)
Ayat di atas secara tegas menjelaskan kewajipan melakukan solat dengan berjemaah dan menyertai solat orang-orang yang solat; dan sekiranya yang dimaksud oleh ayat tersebut hanya menegakkannya saja, maka tidak jelaslah hubungan maksud pada hujung ayat ,"...dan rukuklah kamu bersama-sama orang-orang yang rukuk", kerana Allah telah memerintahkan agar menegakkannya pada awal ayat.
InsyaAllah. Secebis Tazkirah, Segaris Tarbiyyah... Allah hu 'alam.
PAK KHALID JAAFAR & REVOLUSIONER?
-
Bicaraku buat Pak Khalid Jaafar melalui blognya, “sesungguhnya saya amatlah
menghargai karya murni anda. karya ini tidaklah keterlaluan jika dianggap
revol...
Catatan Hujung Mei 2011
-
Alhamdulillah, selepas setahun bekerja secara kontrak di Kumpulan IKRAM Sdn
Bhd akhirnya aku ditawarkan untuk menyambung khidmat di sini. Rezeki yang
datan...